Minggu, 19 Juni 2011

Berbagai Macam Kesenian Tradisional Banten


Angklung Buhun

Kesenian tradisional dari bambu masyarakat Baduy

Angklung buhun ini adalah alat musik tradisional masyarakat Baduy di Banten. Foto: kidnesia
Angklung buhun adalah alat musik tradisional khas Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dinamakan buhun karena kesenian ini lahir bersamaan dengan hadirnya masyarakat Baduy.
Buhun berarti tua, kuno (baheula ). Jadi, maksudnya angklung buhun adalah angklung tua yang menjadi kesenian pusaka masyarakat Baduy.
Kesenian ini dianggap memiliki nilai magis (kekuaan gaib) dan sakral.
Selain itu kesenian ini juga punya arti penting sebagai penyambung amanat untuk mempertahankan generasi masyarakat Baduy.
Saat ini kelompok pemain kesenian angklung buhun sangat jarang ditemui atau dipentaskan.
Biasanya kesenian ini sekarang hanya dijumpai pada acara-acara ritual, seperti acara adat Seren Taun di Cisungsang dan Seba di masyarakat Baduy, Kabupaten Lebak.
Kesenian Buhun memiliki karakter kesenian yang sederhana baik dalam lirik atau lagunya. Biasanya menggambarkan alam sekitar sehingga menciptakan suasana yang nyaman, damai, dan harmonis. (Kidnesia/berbagai sumber)

 

 

 

Bendrong Lesung

Kesenian menyambut perayaan Panen Raya


Bendrong Lesung merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Cilegon-Banten, yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun di masyarakat hingga saat ini.
Awalnya kesenian ini merupakan tradisi masyarakat setempat dalammenyambut Panen Raya. Tujuannya untuk mengungkapkan kebahagiaan atas jerih payah yang dilakukan, dan yang telah membuahkan hasil.
Dalam perkembangannya, Bendrong Lesung tidak hanya ditampulkan pada penyambutan Panen Raya, tetapi ditampilkan juga pada acara-acara pesta perkawinan atau upacara peresmian.
Bendrong Lesung memadukan musik Lesung atau Lisung (tempat menumbuk padi) dengan musik lainnya yang dimainkan oleh beberapa orang.
Kesenian tabuh menabuh gede di daerah Serang


Terbang Gede adalah salah satu kesenian tradisional Banten yang tumbuh dan berkembang pada waktu para penyebar agama Islam menyebarkan ajarannya di Banten. Itulah sebabnya kesenian ini berkembang pesat di lingkungan pesantren dan masjid-masjid, terutama di Kabupaten Serang dan Kota Serang.
Nama Terbang Gede diberikan karena salah satu instrumen musik utamanya adalah Terbang Gede (gede). Pada awalnya kesenian ini berfungsi sebagai sarana penyebaran agama Islam, tetapi kemudian berkembang sebagai upacara ritual seperti: ngarak penganten, ruwatan rumah, syukuran bayi, hajat bumi, juga hiburan.
Kesenian ini dimainkan oleh beberapa orang, biasanya laki-laki lanjut usia. Pemainnya terdiri dari Penabuh Terbang Gede (besar), penabuh sela, penabuh pengarak, penabuh kempul, penabung koneng. Dalam permainannya, diiringi dengan sholawatan nabi dalam bahasa Arab ataupun Jawa.

 

 

 

Rudat

Kesenian bernafaskan Islam dari Banten
Rudat berasal dari bahasa Arab 'Rudatun' yang artinya taman bunga, yang dibawa oleh tokoh ulama Sukalila, antara lain K.H. Madir, K.H. Abdurrahman, pada tahun 1888. Kesenian ini kemudian diteruskan oleh K.H. Soleman sambil menyebarkan agama Islam.
Kesenian rudat berkembang ke seluruh pelosok Kabupaten Serang dan berkembang di kalangan santri untuk mengiringi lagu-lagu shalawat yang bernafaskan agama Islam.
Selain untuk kegiatan keagamaan, rudat juga digunakan untuk keperluan acara pernikahan, khitanan, Mauludan, Rajaban, Idul Fitri, juga perayaan Idul Adha.

 

 

Rampag Bedug

Seni budaya khas Kabupaten Pandeglang


Atraksi seni budaya khas Padeglang ini terdiri dari beberapa orang penari laki-laki dan perempuan yang mengenakan kostum khusus. Sesuai dengan nama keseniannya, alat musik yang digunakan adalah bedug, gendang, dan alat-alat musik lain yang biasa ada pada pertunjukan debus.
Bedug kecil digunakan sebagai pengatur irama dan dinamika tarian. Bedug besar digunakan sebagai bass, sedangkan untuk melodi didapatkan dari lantunan shalawat yang dilakukan penari sambil menabuh bedug.
Tradisi ucapan syukur suku Baduy

 

 

 

Tarian Seba

Tradisi ucapan syukur suku Baduy


Tradisi Seba adalah wujud ucapan syukur suku Baduy yang biasanya dihaturkan kepada kepala pemerintahan daerah mereka, dalam hal ini biasanya Bupati.
Menurut warga Baduy, perayaan adat Seba merupakan penigngalan leluhur tetua (Kokolot) yang harus dilaksanakan setahun sekali. Acara Seba biasanya diselenggarakan setelah selesai musim panen ladang huma. Tradisi ini sebetulnya sudah berjalan sejak dahulu kala. Tempatnya ratusan tahun silam pada masa Kesultanan Banten di Kabupaten Serang.
Seba itu sendiri merupakan penyerahan hasil hasil bumi pada pemerintah. Kebiasaan inilah yang biasa dikatakan dengan memberi upeti pada kerajaan di masa lampau.
Lewat tradisi ini pula masyarakat Baduy bersilaturahmi dengan para pejabat daerah (bupati, gubernur).

Debus

Atraksi kekebalan tubuh yang berbahaya.
Debus Banten
Debus masih diperhitungkan sebagai bagian dari kesenian bela diri tradisional yang kental dengan gerakan bela diri atau silat dan penggunaan senjata. Fokus kesenian Debus adalah pada kekebalan tubuh para pemainnya terhadap benda-benda tajam juga api.
Kesenian ini berkembang pada masa awal tumbuhnya Islam di Banten. Awalnya, kesenian ini digunakan sebagai alat penyebaran agama. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan di bawah kepemimpinan Sultan Agung Tirtayasa, kesenian Debus menjadi alat untuk menumbuhkan semangat juang para pasukan Banten.
Dalam pertunjukan Debus, pemain dilukai dengan menggunakan senjata tajam. Tetapi, meskipun ditusuk, tubuh pemain tidak tampak luka dan pemainnya sendiri pun tidak tampak kesakitan. Para pemain Debus tidak sembarangan mengadakan pertunjukkan. Mereka diharuskan melalui ritual yang telah dipersiapkan oleh guru mereka. Selain itu, pemain juga diharuskan memiliki iman yang kuat dan teguh terhadap ajaran Islam. Pemain tidak boleh mengkonsumsi minuman keras, main judi, mencuri, dan tindakan kejahatan lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar